eza ( go.. bLOG)

Ketepatan sikap adalah dasar semua ketepatan. Tidak ada penghalang keberhasilan bila sikap anda tepat, dan tidak ada yang bisa menolong bila sikap anda salah

Archive for the 'Pengenalan & Arti' Category

KEPRIBADIAN – WATAK – TEMPERAMEN

5th December 2009

Pengantar

images (1)Manusia memiliki tipe kepribadian masing-masing yang sifatnya unik walau memiliki banyak kesamaan-kesamaan. Perbedaan-perbedaan itu dapat dilihat dari temperamen, watak dan kepribadian masing-masing. Dari segi temperamen orang bisa dibedakan antara tipe sanguinis, kholeris, melankolis dan plegmatis. Namun demikian umumnya orang merupakan perpaduan di antara tipe-tipe tersebut. Tipe orang dengan temperamen tertentu merupakan bawaan lahir yang memang tidak mudah untuk merubahnya. Dari segi watak atau karakter juga orang bisa dibedakan antara yang berkarakter baik dan berkarakter buruk. Karakter disini tidak sama dengan temperamen walau berkaitan erat, karena karakter adalah bentuk lain dari temperamen yang sudah mengalami pembentukan melalui lingkungan, seperti lingkungan pendidikan, budaya, agama dan kebiasaankebiasaan hidup lainnya. Karakter dengan demikian bukanlah bawaan lahir, melainkan yang terbentuk kemudian, terutama melalui pendidikan, dan merupakan diri kita yang sesungguhnya.

Dari segi kepribadian juga orang bisa dibedakan, namun pembedaan itu sering mengacu pada temperamen atau sifat-sifat dominan yang ada pada seseorang. Namun demikian kepribadian bukanlah temperamen atau karakter, melainkan lebih luas dari itu, karena kedua hal itu merupakan bagian dari kepribadian. Kepribadian lebih merupakan penampilan diri (citra diri) yang ingin diperlihatkan kepada orang lain. Hal itu bisa saja sama dengan temperamen atau karakter sendiri dan bisa juga berbeda dengan itu, karena hanya berupa tampilan sementara (topeng) agar orang memiliki kesan tertentu terhadap dirinya.

A. Pengertian Kepribadian, Watak dan Temperamen

1. Kepribadian

“Kepribadian adalah organisasi dinamis di dalam individu yang terdiri dari sistem-sistem psikofisik yang menentukan tingkah-laku dan pikirannya secara karakteristik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan.“ (G. Allport) Organisasi dinamis: maksudnya bahwa kepribadian itu selalu berkembang dan berubah meskipun ada suatu sistem organisasi yang mengikat dan menghubungkan berbagai komponen dari kepribadian kita. Psikofisik: maksudnya organisasi kepribadian melingkupi kerja tubuh dan jiwa (tak terpisahkan) dalam satu kesatuan Menentukan: menunjukkan bahwa kepribadian mengandung kecenderungankecenderungan determinasi yang memainkan peranan aktif dalam tingkah laku individu.

Karakteristik (khas, unik): menunjukkan sifat individualis. Tidak ada dua orang yang benar-benar sama dalam caranya menyesuaikan diri terhadap lingkungan, yang berarti tidak ada dua orang yang mempunyai kepribadian yang sama. Menyesuaikan diri terhadap lingkungan: kepribadian menghubungkan/mengantarai individu dengan lingkungan fisiologisnya (yang kadang-kadang menguasainya).

Di sini kepribadian mempunyai fungsi adaptasi dan menentukan.

2. Watak

Walaupun istilah kepribadian dan watak sering dipergunakan secara bertukartukar, namun Allport memberi pengertian berikut: “character is personality evaluated and personality is character devaluated”. Allport beranggapan bahwa watak (character) dan kepribadian (personality) adalah satu dan sama, akan tetapi, dipandang dari segi yang berlainan. Kalau orang hendak mengadakan penilaian (jadi mengenakan norma), maka lebih tepat dipakai istilah “watak”; tapi kalau bermaksud menggambarkan bagaimana adanya (jadi tidak melakukan penilaian) lebih tepat dipakai istilah “kepribadian.”

3. Temperamen

Pengertian temperamen dan kepribadian sering juga dikacaukan. Namun umum mengakui adanya perbedaan di antara keduanya. Temperamen dilihat sebagai disposisi yang sangat erat hubungannya dengan faktor-faktor biologis atau fisiologis dan karenanya sedikit sekali mengalami modifikasi di dalam perkembangan. Di sini peranan keturunan lebih penting/besar daripada segi-segi kepribadian yang lain.

Menurut Allport: “Temperamen adalah gejala karakteristik daripada sifat emosi individu, termasuk juga mudah-tidaknya terkena rangsangan emosi, kekuatan serta kecepatannya bereaksi, kualitas kekuatan suasana hatinya, segala cara daripada fluktuasi dan intensitas suasana hati. Gejala ini bergantung pada faktor konstitusional, dan karenanya terutama berasal dari keturunan.”Menurut G. Ewald:

“Temperamen adalah konstitusi psikis yang berhubungan dengan konstitusi jasmani.”

Di sini peranan keturunan memainkan peranan penting, sedangkan pengaruh pendidikan dan lingkungan tidak ada. Dalam kaitan dengan watak, G. Ewald lebih melihat temperamen sebagai yang tetap seumur hidup, yang tak mengalami perkembangan, karena temperamen bergantung pada konstelasi hormon-hormon, sedangkan konstelasi hormon-hormon itu tetap selama hidup. Sebaliknya watak, walaupun pada dasarnya telah ada tetapi masih mengalami pertumbuhan atau perkembangan.Watak sangat bergantung pada faktor-faktor eksogen (lingkungan pendidikan, pengalaman, dan sebagainya).

4. Hubungan antara kepribadian, watak dan temperamen

Kepribadian, watak dan temperamen berkaitan satu sama lain. Ketiga-tiganya menyangkut diri seseorang. Kepribadian dan watak lebih dekat satu sama lain, bahkan sering disamakan. Kalau kita terutama bermaksud menggambarkan pribadi seseorang sebagaimana adanya, sifat dan pembawaannya yang khas, di situ kita bicara terutama mengenai kepribadiannya, yang punya keunikan tersendiri. Dalam perjalanannya, kepribadian seseorang berhadapan dengan lingkungannya, yang turut membentuknya hingga mencapai taraf kematangan tertentu. Kalau kita melakukan penilaian atas pribadi seseorang, maka hal itu lebih mengarah pada dirinya yang sudah terbentuk, yang dia sendiri turut bertanggung jawab di dalamnya. Inilah yang terutama dimaksud dengan watak. Kata watak dipakai baik dalam arti normatif maupun dalam arti deskriptif.

Dalam arti normatif kita berbicara terutama tentang watak; sedangkan dalam arti deskriptif, kita berbicara terutama tentang kepribadian. Berbicara tentang watak juga sekaligus bicara tentang kepribadian, bergantung mana yang kita tekankan, aspek normatifnya atau aspek deskriptifnya.

Temperamen lebih banyak ditentukan oleh struktur fisik-biologis seseorang, dan sifatnya tetap, oleh karenanya dapat dibuat perbedaan yang jelas dan bersifat tetap antara satu orang dengan yang lain. Temperamen merupakan bagian dari kepribadian, yang di dalamnya unsur bawaan lebih dominan. Namun berbicara mengenai temperamen juga berarti berbicara mengenai kepribadian, suatu kepribadian dengan temperamen tertentu. Tapi kalau bicara tentang perkembangan kepribadian, maka bukanlah terutama mengenai temperamennya, melainkan mengenai pribadi yang sudah mengalami proses pembentukan, berarti lebih dimaksudkan sebagai“watak.”

B. Jenis-jenis Temperamen

Pengelompokan manusia ke dalam beberapa tipe kepribadian merupakan suatu usaha yang sudah berlangsung lama, baik dengan usaha yang masih sederhana maupun usaha yang ilmiah. Dalam pendekatan ilmiah, walau para ahli menempuh cara pendekatan berbeda, namun sebenarnya mereka berangkat dari titik yang sama tapi dengan teknik berbeda. Para ahli berangkat dari pandangan bahwa kepribadian manusia itu variasinya hampir tak terhingga banyaknya. Akan tetapi, untuk memahami manusia yang bermacam-macam itu dibutuhkan teknik tertentu. Para ahli yang berpangkal pada cara pendekatan tipologis beranggapan bahwa walaupun variasi kepribadian manusia tiada terhingga banyaknya, namun semuanya berlandaskan pada sejumlah kecil komponen dasar. Berdasarkan atas dominasi komponen-komponen dasar itulah dilakukan penggolongan manusia ke dalam tipe-tipe tertentu.

1. Ajaran tentang cairan badaniah

Ajaran ini dirumuskan oleh Hippocrates dan selanjutnya disempurnakan oleh Galenus. Ajaran dari kedua tokoh ini kemudian menjadi sangat terkenal dan mendasari banyak pemahaman yang dikembangkan oleh para ahli di kemudian hari. Hippocrates (460-370 SM) adalah Bapak Ilmu Kedokteran, sehingga tidak mengherankan kalau dia membahas kepribadian manusia dari titik tolak konstitusional. Hippocrates dipengaruhi oleh pandangan dari seorang filsuf alam (kosmolog) bernama Empedokles, yang berpandangan bahwa alam semesta ini beserta isinya tersusun dari empat unsur dasar, yaitu: tanah, air, udara, dan api, dengan sifat-sifat yang dikandungnya, yaitu: kering, basah, dingin dan panas. Hippocrates berpendapat bahwa dalam diri seseorang terdapat empat macam sifat tersebut yang didukung oleh keadaan konstitusional yang berupa cairan-cairan yang ada dalam tubuh orang, yakni: Sifat kering, terdapat dalam chole (empedu kuning); sifat basah, terdapat dalam melanchole (empedu hitam); sifat dingin, terdapat dalam phlegma (lendir); dan sifat panas, terdapat dalam sanguis (darah). Keempat cairan tersebut ada dalam tubuh dengan porsi tertentu. Apabila keempat cairan berada dalam porsi seimbang, orang berada dalam keadaan sehat (normal); apabila keseimbangannya yang proporsional itu terganggu, orang tersebut dalam keadaan sakit, menyimpang dari keadaan normal.

Galenus menyempurnakan ajaran Hippocrates tersebut. Dia sependapat dengan Hippocrates bahwa di dalam tubuh manusia terdapat empat macam cai ran, yaitu: chole, melanchole, phlegma dan sanguis, dan bahwa cairan tersebut ada dalam tubuh manusia dalam proporsi tertentu. Apabila suatu cairan melebihi proporsi yang seharusnya (=dominan), maka akan mengakibatkan adanya sifatsifat kejiwaan yang khas. Sifat-sifat yang khas pada seseorang sebagai akibat dari dominannya salah satu cairan badaniah itu, oleh Galenus menyebutnya temperamen. Lalu dengan dasar pikiran yang telah dikemukakan itu Galenus menggolongkan manusia ke dalam empat tipe temperamen, yang berdasar pada dominasi salah satu cairan badaniahnya. Keempat tipe itu adalah: kholeris, melankolis, phlegmatis dan san guinis. Untuk jelasnya lihat tabel berikut:

Cairan badan Prinsip Tipe Sifat-sifat

Chole Tegangan kholeris Hidup (besar semangat) keras, hatinya mudah terbakar, daya juang besar, optimistis Melanchole Penegaran (rigidity) melankolis Mudah kecewa, daya juang kecil, muram, pessimistis Phlegma Plastisitas phlegmatis Tak suka terburu-buru (kalem, tenang), tak mudah dipengaruhi, setia Sanguis Ekspansivitas sanguinis Hidup, mudah berganti haluan, ramah Tipologi Hippocrates-Galenus

2. Empat jenis temperamen

Keempat jenis temperamen di atas akan dijelaskan lebih lanjut :

1). Sanguinis. Ditandai dengan sifat: hangat, meluap-luap, lincah, bersemangat dan pribadi yang“menyenangkan.” Pada dasarnya mau menerima. Pengaruh/kejadian luar dengan gampang masuk ke pikiran dan perasaan, yang membangkitkan respons yang meledak-ledak. Perasaan lebih berperan dari pada pikiran refleksif dalam membentuk keputusan. Orang sanguinis sangat ramah kepada orang lain, sehingga dia biasanya dianggap seorang yang sangat ekstrovert.

2). Koleris. Seorang choleris tampil hangat, serba cepat, aktif, praktis, berkemauan keras, sanggup mencukupi keperluannya sendiri, dan sangat independen. Dia cenderung tegas dan berpendirian keras, dengan gampang dapat membuat keputusan bagi dirinya dan bagi orang lain. Seperti seorang sanguinis, seorang choleris adalah seorang ekstrovert, walau tidak seekstrovertnya seorang sanguinis. Seorang choleris hidup dengan aktif. Dia tidak butuh digerakkan dari luar, malah mempengaruhi lingkungannya dengan gagasan-gagasannya, rencana, tujuan, dan ambisiambisinya yang tak pernah surut.

3). Melankolis. Si melankolis adalah seorang yang paling “kaya” di antara semua temperamen. Dia seorang analisis, suka berkorban, bertipe perfeksionis dengan sifat emosi yang sangat sensitif. Tidak seorang pun yang dapat menikmati keindahan karya seni melebihi seorang melankolis. Sebenarnya dia mudah menjadi introv e r t , tetapi ketika perasaannya lebih dominan, dia masuk ke dalam bermacammacam keadaan jiwa. Kadang-kadang mengangkatnya pada kegembiraan yang tinggi yang membuatnya bertindak lebih ekstrovert. Akan tetapi pada saat lain dia akan murung dan depressi, dan selama periode ini dia menarik diri (withdrawn), dan bisa menjadi seorang yang begitu antagonistis (bersifat bermusuhan).

4). Phlegmatis. Si phlegmatis adalah seorang yang hidupnya tenang, gampangan, tak pernah merasa terganggu dengan suatu titik didih yang sedemikian tinggi sehingga dia hampir tak pernah marah. Dia adalah seorang dengan tipe yang mudah bergaul, dan paling menyenangkan di antara semua temperamen. Phlegmatis berkaitan dengan apa yang dipikirkan oleh Hippocrates mengenai cairan dalam badan yang menghasilkan yang “tenang,” “dingin,” “pelan,” temperamen yang memiliki keseimbangan yang baik. Baginya hidup adalah suatu kegembiraan, dan kadang menjauh dari hal-hal yang tidak menyenangkan. Dia begitu tenang dan agak diam, sehingga tak pernah kelihatan terhasut, bagaimana pun keadaan sekitarnya.

C. Saya Bertemperamen Apa?

1. Dua belas kombinasi temperamen

Tidak mudah untuk menggolongkan orang hanya dalam salah satu jenis temperamen saja. Kita semuanya merupakan perpaduan antara paling tidak dua temperamen, satu yang dominan dan yang lain kurang dominan. Maka ada dua belas kemungkinan besar perpaduan temperamen, yakni: SanChlor, SanMel, SanPhleg, ChlorSan, ChlorMel, ChlorPhleg, MelSan, MelChlor, MelPhleg, PhlegSan, PhlegChlor, PhlegMel.

Dengan pembagian ini, seseorang lebih mudah membuat identifikasi dirinya sebagai salah satu dari kedua belas jenis perpaduan itu daripada keempat temperamen dasar. Pada dasarnya, setiap orang dapat memiliki sekaligus segala kekuatan dan kelemahan yang terdapat pada temperamen yang dominan/utama dan yang kedua. Beberapa dari kekuatan dan kelemahan ini dapat saling menggagalkan satu sama lain, saling menguatkan, saling menonjolkan diri dan saling mempersulit yang lain. Kejadian seperti ini menciptakan keragaman

perilaku, prasangka, dan kemampuan-kemampuan alamiah dari orang dengan temperamen dominan yang sama tapi dengan temperamen tambahan (secondary temperament) yang berbeda.

2. Terjadinya variabel tambahan

Ada kemungkinan bahwa seseorang tidak cocok masuk ke dalam salah satu dari kedua belas jenis temperamen. Memang tidak ada dua orang yang persis sama. Akibatnya dapat mengubah gambaran sebagaimana dikemukakan di atas, sehingga seseorang tidak lagi cocok pada salah satu model tadi. Hal seperti ini dapat diterangkan sebagai berikut:

  • Persentase perbandingan antara predominant temperament dan secondary temperament. Perbandingannya tidak selalu 60/40. Ada perbedaan antara perpaduan 60/40 MelChlor dengan perpaduan 80/20 MelChlor; atau antara perpaduan 55/45 SanPhleg dengan perpaduan 85/15 SanPhleg, dan seterusnya.
  • Latar belakang yang berbeda dan childhood training dapat mengubah pengungkapan dari salah satu jenis temperamen. Seorang MelPhleg yang dibesarkan dalam kekejaman dan kebencian orang tua akan berbeda dengan seorang MelPhleg yang dibesarkan dalam suasana penuh kasih sayang dan perhatian. Keduanya memiliki kekuatan dan talenta yang sama. Akan tetapi, seorang barangkali mengatasinya dengan permusuhan, depresi atau menganiaya diri sendiri sehingga dengan demikian dia tidak pernah menggunakan kekuatan yang dimilikinya.
  • Sering tidak objektif apabila kita mengamati diri kita sendiri. Oleh karena itu, merupakan hal yang bermanfaat apabila kita mendiskusikan mengenai temperamen kita bersama dengan teman dekat. Kebanyakan orang melihat dirinya dengan memakai kaca mata hitam. Perhatikan ungkapan seorang penyair, Robert Burns: “Oh, to see ourselves as others see us.”
  • Pendidikan dan tingkat inteligensi juga dapat mempengaruhi penilaian atas temperamen seseorang. Seorang MelSan dengan IQ yang sangat tinggi akan tampil berbeda dengan seorang MelSan yang memilki IQ rata-rata atau rendah. Pendidikan sangat membantu seseorang untuk mencapai kematangan.
  • Kesehatan dan metabolisme juga termasuk penting. Seorang ChlorPhleg dengan kondisi kesehatan yang baik akan lebih agresif daripada seorang chorPhleg dengan cacad atau mengalami gangguan kesehatan. Seorang PhlegMel penggugup akan lebih aktif daripada seorang phlegMel yang menderita tekanan darah rendah.
  • Tiga macam temperamen kadang hadir dalam diri seseorang. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat (dengan persentase kecil) orangorang yang memiliki satu predominant temperament dengan dua secondary temperament.
  • Motivasi juga memainkan peran yang tidak sedikit. Jika seseorang sedang termotivasi, hal itu akan memiliki pengaruh nyata atas perilakunya, dan mengabaikan perpaduan temperamennya.

images (2)

Kesimpulan

Sejak lahir kita memiliki temperamen tertentu, yang terkait dengan konstruksi tubuh kita, khususnya di bagian empedu, lendir dan darah kita. Adanya sifat-sifat khas pada seseorang sebagai akibat dari dominannya salah satu cairan badaniah tersebut, itulah yang disebut temperamen. Dari sifat-sifat dominan itulah orang dapat digolongkan ke dalam salah satu dari empat temperamen dasar, yakni: Sanguinis, Choleris, Melankolis, dan Plegmatis. Umumnya sifat-sifat orang merupakan perpaduan dari empat temperamen dasar itu, dimana bisa salah satu dari unsur itu lebih dominan dari yang lain. Dari keempat jenis temperamen dasar itu orang bisa dibedakan sebagai ekstrovert (sanguinis, kholeris) dan introvert (melankolis, plegmatis); logis (kholeris, plegmatis) dan emotionalsentimentil (sanguinis, melankolis). Keempat jenis temperamen dasar itu memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing, sehingga kita memandangnya tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Watak atau karakter merupakan diri kita yang sesungguhnya, merupakan hasil olah temperamen, yang sudah dipengaruhi oleh lingkungan (pendidikan, agama, budaya, kebiasaan-kebiasaan, serta tekanan dan tantangan hidup yang kita lalui). Dengan demikian, watak atau karakter bukanlah bawaan lahir seperti halnya temperamen, melainkan yang terbentuk kemudian, khususnya melalui lingkungan dan penghayatan nilai-nilai tertentu yang ditanamkan oleh lingkungan kepada kita. Dengan demikian watak tau karakter adalah diri kita yang harus kita pertanggung jawabkan. Maka kita harus mendidik karakter kita agar dia terbentuk dengan baik. Pendidikan karakter bukan hanya dengan cara tunduk saja pada pengaruh lingkungan, melainkan dengan cara kritis menilai dan kemudian mengambil sikap yang tepat.

Kepribadian adalah keseluruhan diri kita, termasuk di dalamnya watak dan temperamen serta kebiasaan-kebiasaan lain yang ikut mempengaruhi pembawaan diri kita. Kepribadian bisa saja mencerminkan dengan baik temperamen atau watak kita, dan bisa juga berbeda dengan itu. Kepribadian itu umumnya merupakan diri kita yang ingin kita perlihatkan kepada orang lain. Bisa saja suatu saat kita berusaha tampil dengan ramah,karena kita ingin orang memiliki kesan seperti itu kepada kita, tapi pada saat lain kita tampil dengan tegas, dan sebagainya, tergantung kita ingin mengesankan diri kita seperti apa kepada orang lain. Tentu saja ini tidak mencerminkan diri kita yang sesungguhnnya, melainkan lebih sebagai topeng saja, suatu wajah yang ingin kita perlihatkan kepada orang lain. Namun bagi orang yang berkembang dengan baik dalam arti yang sesungguhnya, maka kepribadian yang dia ingin perlihatkan kepada orang tidak lain dari dirinya yang sesungguhnya.

Posted in Pengenalan & Arti | 2 Comments »

Kenalilah Dirimu

4th December 2009

KENALILAH DIRIMU

Pengantar

Mengenal diri merupakan salah satu ciri khas manusia, sebagai makhluk istimewa, terutama karena memiliki akal budi dan kehendak bebas. Tapi dalam kenyataannya pengenalan tentang diri tidak selalu terjadi sebagaimana seharusnya. Hal itu terjadi karena orang tidak menganggapnya sebagai hal yang penting atau karena tidak tahu bagaimana cara melakukannya. Sebagai akibatnya kita hanya mengenal diri sendiri secara dangkal saja, dan tidak memiliki pemahaman yang luas dan mendalam serta memuaskan tentang diri kita sendiri. Ungkapan yang bernada imperatif dari Socrates “Kenalilah Dirimu”, memiliki makna yang sangat luas dan dalam, membuka ruang refleksi untuk secara kritis bertanya tentang diri sendiri, siapakah saya sebenarnya? Usaha mencari tahu tentang diri sendiri bukan sesuatu yang mudah, pun tidak selalu berhasil, namun kita perlu tetap berusaha melakukannya. Sebagai pengantar, topik pertama ini membantu kita untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan mengenal diri, manfaat dan tujuan mengenal diri, cara-cara untuk mengenal diri, dan tanda-tanda pengenalan diri. Dalam topik-topik berikutnya usaha mencari tahu tentang diri sendiri tidak sampai pada refleksi filosofis-teologis, melainkan lebih pada taraf sosial-psikologis. Diharapkan pemahaman yang lebih konkrit tentang diri sendiri dapat membantu kita untuk membangun sikap baik dan positip pada diri kita sendiri.

A. Pengertian ”Mengenal Diri”

Manusia merupakan sebuah pertanyaan besar baginya sendiri. Ada ungkapan yang mengatakan “manusia sebuah misteri.” Ungkapan ini ada benarnya, karena dalam ungkapan tersebut terkandung pengertian bahwa manusia bukan sesuatu yang dapat habis atau selesai dibahas. Walau ada cukup banyak ilmu yang membahas tentang manusia dari berbagai seginya, namun siapakah manusia itu tetap tak bisa terungkapkan seluruhnya. “Mengenal diri” tidak dimaksud mengenal segalanya tentang diri, karena hal itu bukan sesuatu yang mudah bahkan tidak mungkin. Mengenal diri di sini lebih baik dimengerti sebagai suatu keberhasilan memahami hal-hal yang penting tentang diri sendiri, yang membantu dalam usaha membangun sikap baik dan positip pada diri sendiri, mau menerima dan mengembangkan diri sendiri. Perhatian utama diarahkan pada pengenalan tentang kepribadian, watak dan temperamen, pengenalan akan bakat atau potensi diri, serta dapat memetakan tentang diri sendiri perihal kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Dengan pengenalan yang baik terhadap hal-hal tersebut, diharapkan kita lebih mampu mengelola diri kita sendiri, mau menerima diri apa danya, mengembangkan kekuatan dan mengatasi kelemahan dengan baik. Keberhasilan dalam melakkan hal tersebut akan lebih memapukan kita mengembangkan diri kita sendiri, menjadi pribadi yang memiliki mental yang kuat dan sehat, memiliki integritas diri, mandiri, kreatifam da inovatif, serta mejadi pribadi yang termotivasi dari dalam. Kondisi kehidupan seperti ini akan lebih menjamin seseorang meraih sukses dalam hidupnya, akan lebih mampu memberikan kontribusi positif dalam kehidupan ini.

B. Manfaat dan Tujuan Mengenal Diri

Tujuan atau manfaat mengenal diri harus dikaitkan dengan tugas mulia manusia untuk mengembangkan dirinya. Cara berada khas manusia adalah bereksistensi, yang secara terus-menerus berada dalam proses menjadi diri sendiri. Manusia adalah sesuatu yang “sudah” dan sekaligus “belum”, yang “faktual”dan yang “potensial”; suatu realitas yang masih harus dibentuk terusmenerus, tanpa henti, tanpa akhir. Di samping kenyataan faktualnya yang sekarang, manusia terbuka untuk banyak kemungkinan (potensial) di masa depan. Kita sedang berada pada satu titik dalam rentangan yang panjang antara yang sudah dan yang belum, antara masa lalu dan masa depan. Dalam rangka mewujudkan yang masih potensial itu, disitulah manusia berperan. Maka bagaimana wujudnya, kecepatannya, mutunya, dan sebagainya, sangat ditentukan oleh peran yang dimainkan seseorang dalam merealisirnya. Usaha seseorang merealisir kemungkinan-kemungkinannya (mewujudkan atau mengembangkan dirinya) harus didasarkan pada kenyataan faktual dirinya. Data faktual ini berfungsi sebagai pengarah. Perkembangan seseorang bukanlah perkembangan tanpa arah. Keberhasilan seseorang mewujudkan hal tertentu dalam dirinya (sebagai dokter, peneliti, guru, dan sebagainya) tidak lain karena apa yang dia miliki secara potensial sekarang direalisir dengan bantuan arahan dari apa yang sudah dia miliki sebelumnya.

Selain sebagai arahan, data faktual diri seseorang berfungsi juga sebagai pembatas, dengannya tidak semua kemungkinan dapat diwujudkan. Seseorang yang kakinya cacat tidak akan bisa menjadi seorang pemain bola kaki yang handal. Keadaan dirinya membatasinya untuk merealisir kemungkinan itu.  Maka orang itu pun tidak perlu bermimpi untuk menjadi pemain bola kaki yang profesional.

C. Cara Mengenal Diri

Mengenal diri tidak lepas dari usaha yang disengaja, seperti yang sedang kita lakukan sekarang ini. Kita dapat mengenal diri sendiri dengan bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi; dengan bantuan teman dan pengalaman beraneka ragam tentang diri sendiri dalam beradaptasi dengan lingkungan.

1. Melalui sejarah perkembangan diri

Kita dapat mempelajari uraian mengenai sejarah perkembangan manusia, seperti evolusi perkembangan fisik manusia. Di situ kita mendapat pemahaman tentang banyak hal mengenai diri kita, bukan saja menyangkut perkembangan fisik manusia melainkan juga perkembangan peradabannya, sebagai hasil dari perpaduan perkembangan baik fisik maupun psikis.

2. Melalui penelusuran bakat dan kepribadian

Kita juga dapat mengenal diri melalui cara penelusuran bakat dan kepribadian. Terdapat beberapa tipe kepribadian dengan ciri-cirinya yang khas. Setiap orang, selain merupakan perpaduan dari beberapa tipe, juga memiliki sifat-sifat tertentu yang dominan sehingga dapat digolongkan pada tipe tertentu. Sifat-sifat khas ini akan mewarnai penampilan seseorang dalam hidupnya, menyertai seseorang dalam berhadapan dengan lingkungannya, kejadian-kejadian yang melibatkannya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Begitu juga sifat-sifat khas ini dapat ikut menentukan keberhasilan dan kegagalan seseorang. Melalui metode penelusuran bakat, seseorang dapat dengan baik mengetahui bakat-bakat dominannya, yang sering menjadi pedoman dalam penerimaan tugas serta tanggungjawab yang akan diembannya.

3. Melalui pengalaman sehari-hari

Pengalaman-pengalaman nyata juga dapat menjadi jalan untuk mengenal diri sendiri. Kesabaran atau ketidaksabaran dalam antrian, kesediaan untuk mengalah, kegigihan dalam mewujudkan cita-cita, ketekunan dalam tugas, kesetiaan menepati janji, kepekaan terhadap lingkungan, dan sebagainya. Kita dapat melihat diri sendiri dengan meninjau kembali pengalamanpengalaman dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

4. Melalui kebersamaan dengan orang lain

Kita dapat juga mengenal diri sendiri melalui kebersamaan dengan orang lain. Kita dapat meneropong diri dengan membandingkannya dengan orang lain. Dengan itu kita dapat melihat persamaan dan perbedaan kita dengan orang lain, yang sekaligus memperlihatkan kekhususan diri kita. Dalam berhadapan dengan orang-orang lain disitu juga kita megungkapkan siapa diri kita, melalui tutur kata kita, melalui sikap dan perlakuan kita terhadap satu sama lain.

5. Melalui kaca mata orang lain

Selain beberapa cara yang telah dikemukakan, kita juga dapat mengenal diri sendiri melalui “kaca mata” orang lain, teman, sahabat, dan orang-orang lain yang dekat dengan kita, mengenai bagaimana kesan dan penilaian mereka terhadap diri kita. Kadang-kadang orang lain lebih objektif mengenal diri kita dari pada kita sendiri. Untuk itu ada baiknya bila kita bertanya tentang diri kita pada orang lain, pada orang yang cukup mengenal kita secara dekat, yang mau dan berani terus terang mengatakan apa adanya tentang diri kita sebagaimana mereka amati dan alami serta rasakan tentang kita.

6. Melalui refleksi pribadi

Cara yang tidak kalah baiknya untuk mengenal diri sendiri adalah dengan melakukan refleksi pribadi tentang diri sendiri. Cara ini bisa dilakukan kapan kita mau, kapan kita bisa ambil waktu khusus tanpa mengganggu jadwal penting yang lain. Ada cukup banyak orang yang melakukan hal ini dalam bentuk retret atau rekoleksi, tafakur atau bentuk kegiatan rohani lainnya. Terserah mana yang dirasa paling cocok untuk diri sendiri.

Demikianlah ada bermacam-macam cara yang terbuka bagi kita dalam usaha mengenal diri sendiri. Perpaduan dari berbagai cara itu dapat memberi kita pemahaman yang semakin baik tentang diri kita. Pemahaman yang semakin baik terhadap diri sendiri akan sangat membantu dalam rangka menerima dan mengembangkan diri sendiri.

D. Tanda Pengenalan Diri

Orang yang sudah semakin mengenal diri dengan baik, dia punya gambaran yang semakin jelas tentang dirinya. Ketika dia merenungkan pertanyaan “Siapakah Aku”, dia langsung punya gambaran dalam hatinya tentang siapakah dia dengan berbagai kekuatan dan kekurangan di dalamnya. Bahkan seandainya dia mau atau diminta, dia dapat menetapkan simbol dirinya sendiri. Artinya, dia dapat mengibaratkan dirinya sebagai sesuatu yang, dalam banyak hal memiliki “kesamaan” dengan dirinya (walau diri kita tetap tidak identik dengan simbol itu sendiri).

Pengenalan diri yang semakin baik dapat membantu kita membentuk gambaran atau konsep diri. Konsep diri ini sangat penting karena sangat menentukan dalam mana kita memandang dan memperlakukan diri kita sendiri. Itulah sebabnya kita penting memiliki konsep diri yang baik dan tepat, yang muncul atau dibangun dari pengenalan diri yang baik dan tepat pula.

Gambaran atau konsep diri itu dalam beberapa waktu kemudian (mungkin cepat atau lama) dapat saja berubah. Perubahan tersebut dapat terjadi berkat adanya pemahaman dan pengenalan yang semakin baik (bertambah) tentang diri sendiri.

Dari pengenalan diri yang sudah ada sebelumnya, ada kemungkinan seseorang telah melakukan pengelolaan yang baik terhadap dirinya, khususnya dalam menangani kelemahan yang ada pada dirinya. Setelah berjalan beberapa waktu, sesudah menjalani usaha perbaikan yang sungguh-sungguh, orang tersebut mengalami perubahan yang berarti, bahkan drastis. Tadinya mengenal dirinya sebagai penakut, tidak punya pendirian, serba tergantung pada orang lain, dan sebagainya; sekarang dia melihat dirinya sebagai pemberani, teguh pendirian, mandiri, dan sebagainya. Dapat dimengerti bahwa konsep dirinya sekarang mengalami perubahan dari konsep diri sebelumnya.

Semuanya bertolak dari pemahaman dan pengenalan diri yang semakin baik.

Kesimpulannya

Untuk menjadi pribadi yang semakin dewasa, kita harus mengenal diri kita dengan baik. Dengan mengenal diri secara memadai, akan lebih mudah bagi kita untuk mengelola diri kita sendiri, kita akan lebih mudah menentukan pilihan-pilihan hidup kita, yang sesuai dengan kondisi dan potensi yang kita miliki. Ada banyak cara yang bisa kita tempuh untuk mengenal diri dengan baik. Kita dapat melakukannya dengan cara melihat pengalaman dan sejarah hidup kita sendiri, termasuk memperhatikan kebersamaan kita dengan orang-orang lain dalam pergaulan atau interaksi sehari-hari. Kita juga bisa mengenal diri melalui kaca mata orang lain, terutama mereka yang sangat dekat dengan kita. Dan tidak kalah penting adalah melalui refleksi yang kita lakukan atas diri kita sendiri.

Dengan mengenal diri sendiri maka kita memiliki konsep diri yang jelas, kita dapat memetakan diri kita sendiri, mengenal dengan baik kekuatan-kekuatan dan kelemahankelemahan yang ada dalam diri kita serta mengelolanya, sehingga kita lebih bisa menjalankan hidup kita secara lebih terarah sekaligus menyenangkan.

Posted in Pengenalan & Arti | No Comments »